Permasalahan riba atau renten akhir-akhir ini seakan-akan sudah berubah menjadi musibah bagi kita umat Islam secara umum. Namun sayangnya, banyak kalangan yang tak ambil pusing entah karena tidak tahu hakikat hukumnya atau memang sengaja menutup mata dan berusaha dengan berbagai trik. (Cara) untuk menghalalkannya. Bahkan tak segan-segan di antara orang berduit yang doyan (suka) riba mendirikan bank berkedok syari'ah padahal ia hanya bermu'amalah dengan sistem riba yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Lantas korbannya tak lain hanyalah masyarakat tingkat ekonomi rendah, walaupun ada juga yang dari menengah ke atas. Mengingat bahaya riba bagi pelakunya dan dampak jelek yang ditimbulkan naka kita merasa perlu mengingatkan kembali tentang masalah ini sebab (QS. Adz-Dzariyat: 55) ... Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
Makna Riba
Riba adalah bertambah dan berkembang.
Adapun secara istilah, riba. Adalah suatu tambahan dalam jual beli pada dua barang yang sama-sama mengandung unsur riba.
Jadi, tidak semua tambahan dalam jual beli atau yang lainnya dinamai riba.
Hukum Riba
Hukum riba adalah haram menurut. Al-Qur'an, dan As-Sunnah.
(QS. Al-Baqoroh: 275) ... Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Oran-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba) maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
Hadist Jabir: "Rasulullah SAW melaknat orang yang memakan riba, yang memberi riba, orang yang mencatatnya dan saksinya. Rasulullah SAW melanjutkan:'mereka itu semua sama'". (HR Muslim: 1598)
(Bersambung)
INDRAWASKITA
Catatan-catatan kecil dalam hidupku, semua terangkai indah dalam kata-kata sederhana.
24 Februari 2012
18 Desember 2011
Muara Teweh
Pertama datang ke Muara Teweh sekitar dua bulan yang lalu. Waktu itu masuk kota Muara Teweh hanya sebentar dan pada malam hari. Suasana kota cukup sepi dan tenang. Khas sekali kota-kota di Kalimantan Tengah, sepi di malam hari meski belum terlalu malam.
Sekitar satu setengah bulan yang lalu barulah petualangan di Muara Teweh dimulai. Datang kemari saat siang hari, kota yang penuh bunderan. Pertama masuk disambut oleh Bunderan Air Mancur di Jalan Yetro Sinseng.
Kemudian lanjut menyusuri jalan utama atau Jalan Ahmad Yani, sampai bertemu kembali dengan bunderan yang belakangan saya tahu disebut oleh orang setempat dengan Bunderan Durian. Yah sesuai dengan patung Buah Durian besar yang ada di tengah bunderan, walaupun sebenarnya ditemani juga dengan Buah Rambutan.
Kembali melanjutkan jalan menyusuri Jalan Ahmad Yani, bertemulah dengan Gedung DPRD nan nampak bersih. Di samping Gedung DPRD terdapat semacam GOR dengan tribun mengitari tanah datar di bawah di dasar cekungan. Kemudian ada Kantor Bupati yang dilengkapi dengan taman yang indah di muka kantor. Di situlah biasanya warga banyak menghabiskan waktunya di sore hari.
Lepas dari Kantor Bupati dan taman indahnya, bertemulah dengan Bunderan Nelayan. Bunderan dengan Patung Nelayan di tengahnya tersebut menjadi tempat peraduan dari empat jalan. Satu arah ke kiri adalah ke arah Bandara, dan Lurus ke depan adalah arah perumahan, dan arah ke kiri adalah arah ke Pasar dan ke Kabupaten Murung Raya.
Melanjutkan jalan ke arah pasar akan menemui satu-satunya lampu merah di kota ini. Seperti kota-kota lain di Kalimantan Tengah dan Selatan, Lampu merah ini kurang berfungsi. Masih saja banyak warga yang melintasi simpang empat lampu merah ini tanpa menghiraukan signal dari Lampu Lalu-lintas.
Tidak seperti di jalan-jalan yang lain, jalan menuju pasar ini sangatlah ramai. Ditambah dengan kendaraan-kendaraan yang parkir semaunya, jadilah jalanan kota yang mirip Jakarta (semrawut). Letak pasar ini di pinggir Sungai Barito, mungkin pengembangan dari yang dulunya pasar terapung juga. Di sekitar Pasar juga terdapat penginapan jaman dulu, harganya masih Rp. 30.000,-/malam. Namun jangan membayangkan pelayanan seperti hotel-hotel di Jawa.
Bulan Desember pun mulai. Dan ternyata sesuai dengan patung yang ada di bunderan kota, banjir durian mulai mendatangi kota. Terpusat di Desa Nihan pembukaannya, lantas menjalar masuk ke kota. Kita bisa mendapatkan durian dengan harga Rp. 3.000,-/buah, kalau kita pintar menawar masih bisa lebih murah lagi.
Setelah pesta durian di kota, mulailah menjelajah daerah pedalaman. Melaju dengan Pajero Sport GLX, mulailah perjalanan menuju Buhut dan Paring Lahung. Setelah empat jam lebih menyusuri jalan Logging (angkutan kayu) sampailah ke desa dimaksud. Seluas mata menjelajah, tidak ada aspal yang terlihat.
Pulang dari Buhut, mencari jalan pintas menuju Kota Muara Teweh. Mulailah perjalanan OFFROAD, diiringi oleh rintik hujan perjalanan menjadi lebih seru. Mulai dari melintasi jalan yang habis karena setiap hari tanahnya digerus oleh air hujan, sampai melewati jembatan yang terbuat dari dua batang kayu yang dibentangkan membelah sungai kecil.
Sekitar empat jam melalui jalan perkebunan kelapa sawit, bertemulah dengan Sungai Barito. Akhirnya menunggu LCT (kapal) untuk menyeberang. Dengan biaya Rp. 500.000,- menyeberanglah satu mobil beserta penumpangnya. Sampai seberang hari telah sore dan perut mulai minta diisi. Keluar dari kapal, bertemulah dengan warung kecil dengan Buah Durian berserakan di lantainya. Akhirnya mulailah kembali pesta durian. Cukup Rp. 50.000,- makan sepuasnya untuk delapan orang.
Setelah kenyang dengan pesta durian, lanjutlah perjalanan menyusuri jalan perkebunan kelapa sawit lagi. Di tengah serunya OFFROAD mulailah menemui sedikit kendala. Karena malasnya pengemudi memakai gardan 4x4 akhrinya nyangkut juga di kubangan. Keluar dari kubangan besi pengaman gardan belakan ternyata nyangkut dan menimbulkan bunyi ketunkan yang ramah seiring putaran gardan.
Setelah dicek sebentar, perjalanan lanjut lagi hingga sampai ke Kota Muara Teweh. Sampai di kota, bunyi yang tadi ramah sekarang sudah tidak terdengar lagi. Mungkin karena sudah aus, jadi tidak berbenturan lagi. Akhirnya sampai juga di Muara Teweh.
Indra, 18 Desember 2011
Langgan:
Entri (Atom)